Monday, September 28, 2015

Aku Pengen Ke Papua

Indonesia memang surganya petualang. Beragam tempat di negara cincin api ini memiliki pesonanya masing-masing, tidak terkecuali Papua. Propinsi di ujung timur Indonesia ini punya banyak obyek wisata yang patut untuk dikunjungi, bahkan bisa dibilang yang paling lengkap. Mulai dari gunung, lembah, sungai dan pantai semuanya ada di sana. Tak berlebihan rasanya jika Papua adalah sebuah surga kecil di Indonesia.

Mulanya, Papua dikenal banyak orang lewat adat-istiadat serta budayanya. Seiring dengan berjalannya waktu, kini Papua menjadi populer melalui paronama alamnya yang luar biasa. Masyarakat Papua yang masih menjunjung tinggi budaya warisan leluhur dengan prinsip alam sebagai pusat dari kehidupan. Alam, bagi masyarakat Papua telah menjadi bagian yang tak bisa lepas dari kehidupan sehari-hari. Budaya dan kearifan lokal tetap dijaga dengan baik melalui suku-suku yang mendiami seluruh daerah di Papua.

Masyarakat Papua juga memiliki cita rasa seni yang tinggi. Bermacam-macam karya seni dihasilkan oleh masyarakat Papua. Kecintaannya pada alam dapat dilihat lewat hasil karya seni yang dihasilkannya. Sebagai contoh, baju adat Papua yang menggunakan bulu burung Cendrawasih pada hiasan di kepala. Selain itu terdapat pula kerajinan nokem yang memakai bahan alam. Contoh-contoh kecil itu telah membuktikan betapa cintanya masyarakat Papua kepada alam. Keharmonisan dengan alam telah terjadi dalam kehidupan masyarakat Papua.

Tak hanya itu, Papua juga memiliki kudapan populer di nusantara yaitu Papeda. Kuliner yang terbuat dari bahan dasar sagu ini tidak ada duanya dalam hal rasa. Jika selama ini hanya bisa mencicipinya melalui warung yang terdapat di daerah Babarsari Yogya, alangkah bahagianya bila dapat melahapnya langsung di tanah Papua.


Itulah kiranya sebagian kecil kisah yang membuat asa terus membumbung tinggi untuk bisa pergi ke Papua. Papua telah menjadi sebuah mimpi dari kecil. Keramahan masyarakat dan keindahan alamnya membuat hati mantap untuk datang ke sana. Terlepas dari semua itu, Papua adalah bagian dari Indonesia. Malu rasanya jika sebagai orang Indonesia jika belum bisa ke Papua.

Orang Bodoh (Akhirnya) Jadi Presiden

Setelah lama sekali tidak mengunjungi menulis di dunia maya akhirnya kesempatan itu datang juga. Tak sekedar kesempatan namun juga kebetulan sedang selo,nganggur,free,bebas atau apapun namanya.

Oke, langsung saja,cukup basa-basi, fafifunya...Sesuai dengan judul, kali ini akan sedikit melihat tentang presiden terbaru NKRI. Joko Widodo atau JOKOWI. Terpilihnya Jokowi sebagai pressiden Indonesia selama lima tahun ke depan. Jokowi sebelum menjadi RI 1 adalah seseorang yang sederhana,gapyak serta penuh guyon namun penggila musik cadas macam burgerkill,death vomit hingga Lamb of God.. Karir politiknya berawal dari profesinya yang menjadi pengusaha mebel di daerah kelahirannya Solo, Jawa Tengah. Berkat kepribadiannya yang unik itu,sosoknya pun mudah diterima oleh banyak kalangan.

Akhirnya, kesempatan untuk menapaki dunia politik bagi Jokowi pun datang. Dengan menggandeng Pak Rudi sebagai wakil, Jokowi mantap melaju menjadi calon walikota Solo dan terpilih sebanyak dua periode hingga tahun 2013 (coba hitung sendiri sejak kapan Jokowi jadi walikota Solo..Hehehehe).

Ada momen unik semasa Jokowi jadi walikota Solo. Alumnus Fakultas Kehutanan UGM ini dibilang orang bodoh dan ndeso oleh Bibit Waluyo, Gubernur Jateng sebelum Gandjar Pranowo. Pemicunya adalah sederhana. Kala itu, Jokowi dikatakan bodoh oleh Bibit Waluyo karena karena berani menentang gubernur dalam pembangunan mal di Solo. Padahal, Jokowi tahu, lokasi yang mau dijadikan mall itu adalah bangunan bersejarah bekas pabrik es Saripetojo. Reaksi Jokowi setelah kejadian itu hanya selow,woles, kalem. Dia hanya berkata “Ya, saya ini memang bodoh,ndeso, masih harus belajar ke banyak orang”.

Reaksi yang tidak diduga oleh banyak orang pastinya, termasuk saya. Dari situ, Jokowi terlihat merupakan orang yang pragmatis. Entah apa yang dirasakan oleh Pak Bibit sekarang setelah tahu Jokowi jadi presiden. Mungkin kaget,syok ataupun biasa saja, siapa yang tahu. Semasa menjabat di Solo, Jokowi memang gemar blusukan atau turba (meminjam istilah PKI) untuk memantau realitas yang terjadi terutama di kalangan kelas masyarakat terbawah. Di pasar,sawah dan perkampungan kumuh Jokowi tak merasa jijik berbaur dengan masyarakat.

Mungkin, pribadi yang nyleneh itu pula yang membuatnya dialut untuk menangani Jakarta oleh partai banteng moncong putih. Kesempatan langka itu tak ditolak oleh Jokowi, mungkin juga untuk menunjukkan diri sebagai pribadi yang patuh kepada sopir mobil yang membawanya. Dengan berduet bersama Ahok, mantan Bupati pulau Bangka yang terkenal galak dan gaya bicaranya yang blak-blakan. Duet seperti air dan api ini ternyata berhasil menjinakkan warga Jakarta yang kondang dengan cuek,masa bodoh dan tidak pedulinya. Belum genap lima tahun memimpin Jakarta, duet Jokowi-Ahok terpaksa harus bercerai. Jokowi dikomando untuk memimpin yang mungkin di luar mimpi-mimpi dalam tidurnya yaitu sebuah negara. Negara Indonesia.

Di ajang Pilpres 2014, Jokowi berpasangan dengan seorang senior yang telah terbiasa mondar-mandir keluar masuk istana negara yaitu Jusuf Kalla. Dua putaran harus dilalui duet mua-tua itu sebelum akhirnya lolos ke putaran akhir dan bersaing ketat dengan pak Jendral Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa. Dalam kampanye pilpres, perang jargon diantara kedua tim pendukung ibarat perang antara dua kubu merah dan kubu biru dalam ring tinju. Masing-masing kubu berjuang mati-matian untuk memenangkan tiap idolanya menjadi presiden terbaru Indonesia. Berbagai macam cara ditempuh dari sosial media sampai adu program di televisi,baliho maupun melalui media seni.

Kini, setelah melalui drama yang membuat rakyat seperti terbelah menjadi dua blok akhirnya presiden resmi terbaru Indonesia akhirnya terpilih. Dia adalah Joko Widodo atau lebih gaul dan memasyarakat dipanggil dengan Jokowi.
Mudah-mudahan setelah terpilih, Jokowi dapat memenuhi janjinya semasa kampanye. Sebagai rakyat biasa, saya pun punya beberapa pesean untuk pak Jokowi. Jangan biarkan tim hore yang dulu mendukung bapak duduk di sebelah depan atau di belakang bapak. Jangan biarkan budaya ABS (Asal Bapak Senang) tumbuh lagi di hati para pembisik bapak. Terakhir, segera tambah bobot tubuh bapak agar terlihat gagah dan tidak cungkring lagi.